Hai ... yang pakabar, eh sorry dulu nih dihari Valentin yang mengejutkan. Kalian memang orang-orang yang dapat diajak untuk bekerja sama. Thank's buat kamu-kamu yang telah bersusah payah mencari alamat dan juga mau berkorban untuk sesuatu yang belum pasti. Tetapi satu hal yang saya tahu bahwa kalian adalah teman-teman ku yang tahu dan kenal siapa teman kalian ini. Lewat momen seperti ini saya mau mengatakan sesuatu hal yang telah kalian berikan selama ini. Saya mengucap syukur kepada Tuhan bahwa saya bisa ketemu kalian, karena kalian lah orang yang disisi saya pada waktu-waktu yang lalu. Di mana Tuhan punya banyak cara untuk anak-Nya supaya dapat pulang lagi kepada-Nya. Teman dalam kelompok yang tak punya tujuan dan tak punya visi aku sudah didik dalam banyak hal oleh Tuhan. Baik hal-hal yang kurang menyenangkan maupun hal-hal yang bagiku aku senang tetapi bagi Tuhan itu semua tidak benar. Terus sekarang, Tuhan tahu bahwa aku butuh teman untuk sharing dan dalam hal-hal pribadi, maupun masalah- masalah yang saya hadapi. Saya disini kurang lebih satu tahun dan kelompok kecil ini sudah terbentuk satu tahun yang lalu. Di dalam kelompok ini punya tujuan yang benar dan punya suatu kasih persaudaraan dalam kasih Kristus. Dalam kelompok ini saya bertumbuh mengenal Tuhan lebih dalam lagi, dan disini saya mulai belajar mengali alkitab, melalui kasih Kristus yang amat besar saya bersyukur saya boleh dikuatkan. Pada saat saya jatuh sahabat-sahabatku membantu, dimana saya ada kesulitan disana saya dibimbing. Liliana, Yen Nie dan Suaili aku dengar di WD sudah ada Persekutuan Mahasiswa nya ya. Saya juga rindu kalau kalian juga boleh merasakan kasih dalam kelompok kecil. Mungkin disana kalian menjadi pengurus, mungkin disana kalian adalah orang-orang yang cukup terkenal dan boleh dibilang sudah kakak kelas. Alangkah baiknya jika kalian dapat menjangkau banyak jiwa lagi bagi Tuhan melalui pelayanan kalian. Saya mau kalian juga boleh menjadi orang-orang yang benar dihadapan Tuhan. Ada suatu ilustrasi:

Seorang pelayan bercerita tentang kehidupan pelayanan dia yang rasanya hambar. Selama ini dia (Walaupun sebagai seorang pengurus dalam wadah pelayanan itu) merasa tidak mendapatkan apa-apa di dalam pelayanannya dan selalu terhimpit dengan berbagai masalah, dia merasa capek, bo hwat melayani dan berinteraksi dengan teman-teman sepelayanan dia yang kadang-kadang sulit dia mengerti. Intinya dia mengalami kejenuhan rohani. Dari hasil sharingnya diketahui bahwa dia telah beberapa kali tidak membaca alkitab dan bersaat teduh, doa pribadipun dia hentikan karena merasa tidak ada hasilnya, tidak ada gunanya. Jangankan berdoa buat buletin doa persekutuan, untuk berharap pada Tuhan akan pergumulan pribadinyapun terasa sungkan.

Mungkin hal yang dialami saudara di atas juga dialami oleh anda secara pribadi. Untuk apa berdoa bagi pelayanan kampus kita kalau toh tak ada rasanya tidak ada hasil yang bisa diwujudkan, untuk apa ikut persekutuan doa kalau tidak ada ‘hati’ yang sungguh-sungguh berdoa, untuk apa mendoakan kesulitan bangsa kita kalau sampai sekarang rasanya Tuhan tidak sedang memulihkan kondisi bangsa kita keluar dari kondisi krisis (atau bahkan imbas krisis bangsa kita juga semakin menghimpit kehidupan kita secara pribadi yang semakin bergumul). Terlalu rumit memang. Tetapi apakah pada saat kita mengalami kesulitan dan pergumulan di dalam kehidupan kita, kita memilih untuk sungguh bersandar kepada Tuhan menangis dan berkata," Tuhan saya memang tidak mampu hidup tanpamu dan saya percaya apapun yang Tuhan izinkan buat hidup saya adalah yang terbaik untuk membentuk saya". Atau kita memilih untuk selalu menangis dan berkata, " Tuhan engkau kejam kenapa engkau izinkan penderitaan dan kehampaan rohani ku ini, aku sungguh tidak mengerti engkau".

Terserah.. itu pilihan anda tetapi ingatlah akan hal ini : ‘ Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji."(2 Kor 13:5). Untuk mengakhiri ilustrasi ini saya punya cerita buat kalian Oke!!!

Di tepi sungai amazone hiduplah sebuah keluarga yang mempunyai seorang anak laki-laki yang menanjak dewasa. Ayahnya menyayanginya karena ia anak yang cerdas. Suatu malam si ayah mengajak anak laki-lakinya ini untuk besok berjalan-jalan di hutan amazone, anak ini begitu gembiranya karena ia belum pernah menjelajah hutan amazone yang lebat dan berburu. Singkat kata setelah si anak mempersiapkan diri dengan berbagai peralatan seperti pisau dan panah beserta anak panahnya, merekapun mulai menembus kelebatan hutan amazone. Si anak ini begitu gembira karena melihat pemadangan di hutan yang begitu indah dan ayahnya menunjukkan kepadanya hal-hal baru. Menjelang petang mereka berhenti pada sebuah bagian hutan yang agak terbuka. Si ayah menyuruh anaknya untuk menunggu sebentar karena si ayah ingin kencing. Sepuluh menit, tiga puluh menit si ayah belum muncul juga, si anak mulai cemas dan bertanya-tanya dimanakah gerangan ayahnya berada. Akhirnya senja pun tiba dan sang ayah tidak nampak juga, si anak mulai ketakutan dan berteriak-teriak memanggil ayahnya, "Ayah dimanakah engkau, ayah dimanakah engkau...", si anak menyadari bahwa ayahnya sengaja meninggalkan dia di tengah hutan amazon.

Hari telah menjadi gelap dan ia mulai mendengar bunyi-bunyi aneh yang menakutkannya, kemudian ia ingat akan pesan ayahnya untuk mencari tempat di atas pohon untuk beristirahat di malam hari untuk menghindari ancaman binatang liar dan buas. Setelah ia membuat ‘tempat tidur’ seadanya dengan anak panahnya ia pun mencoba untuk tidur, namun ia tidak bisa tidur karena keadaan begitu menakutkan dan gelap sekali, ia terus menyesali dan bertanya mengapa ayahnya meninggalkannya di hutan amazone sendirian, dengan marahnya iapun berjanji bila ia dapat keluar dari hutan amazone ia akan mencari ayahnya dan membunuhnya karena kekejamannya.

Setelah hari mulai terang ia pun turun dan mulai mencoba mencari jalan keluar dari hutan amazone yang lebat, ia berjalan dan berjalan mengikuti arah matahari dan akhirnya setelah beberapa jam ia keluar dari hutan amazone itu, betapa gembiranya ia namun betapa kagetnya ia karena ada suara yang dikenal olehnya berkata dengan sukacita kepadanya," Selamat nak..", tanpa basa-basi si anakpun segera mencabut anak panahnya dan menembakkan ke arah sumber suara yang rupanya adalah orang yang meninggalkannya di tengah hutan amazone, anak panah tersebut diarahkan ke dada ayahnya namun karena ia masih belum terlalu pandai menggunakan busur dan panah anak panah tersebut meleset dan mengenai lengan kiri ayahnya. Sambil berteriak marah si anak mendekati ayahnya dan memukul wajah ayahnya yang menahan sakit karena terkena panah si anak, si anak terus memukul dan memukul ayahnya untuk merobohkannya dan si ayah tetap diam di tempat tanpa berkata-kata apapun. Setelah si anak lelah memukul ayahnya yang tetap berdiri tegak, ayahnya bertanya," Nak, engkau marah ya ..? Ketahuilah ayah sengaja membiarkan engkau sendirian di tengah hutan amazone karena engkau telah berusia 14 tahun, dan ini merupakan ujian kedewasaanmu, dan engkau berhasil. Ayah tidak pernah meninggalkanmu saat engkau sendirian berteriak memanggil ayah, ayah hanya berjarak tiga pohon dari tempatmu, ayah ingin keluar namun tidak dapat karena ini ujian buatmu , saat engkau berada di atas pohon ayah berjaga di bawah pohon agar binatang liar yang dapat memanjat pohon tidak mencelakaimu. Saat engkau berjalan mencari jalan keluar ayah menjagamu dari belakang, dan nyatanya engkau berhasil , sekali lagi ayah katakan selamat kepadamu nak..".

Betapa kagetnya si anak dengan perkataan ayahnya dan sambil menangis dengan hati hancur ia menuntun ayahnya pulang dan berterima kasih akan kasih ayahnya.

Sering kita tidak menyadari sebenarnya Allah dengan setia menjaga dan menuntun kita untuk keluar dari kesulitan dan pergumulan , hanya ia menunggu kita apakah kita mau bersandar kepadanya atau kita justru menjadi anak yang marah dan kesal akan ujian Allah. " Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan" (Yakobus 1:3). Karena itu marilah dalam sesulit apapun keadaan kita tetap percaya dan bersandar kepada Allah di dalam doa karena di balik hujan ada pelangi yang indah menunggu. "Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal (yang sulit sekalipun), sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu (semua)." (1 Tes 5:17-18).

Klick gambarnya